catatan siapa ?

ilmu yang beramal, amal yang berilmu

Tampilkan postingan dengan label catatan dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan dakwah. Tampilkan semua postingan



Barangkali Tuhan sedang mengingatkanku agar tak menjauh lagi dari-Nya
Sebetulnya ga ada yg istimewa dari perjalanan pulang kantor kemarin,
Gw turun dari Bus AC 70 Tn. Abang-Cibinong, lalu bersegera menunaikan kewajiban gw utk sholat Maghrib di Masjid al-Hidayah, waktu Maghrib sudah di ujung waktu, seperti biasa.

Disana gw bermakmum pada jama’ah yg masih sholat, ternyata makmum yg ada di samping gw adalah Akhi Aditya Subekti, hmm… temen satu perjuangan di Skil… sudah lama sekali ga ketemu dia pasca walimahnya, asli gw kangen! sekalian pulang, gw tawarin dia menumpang di motor gw yg ada di penitipan, sepanjang perjalanan dia bercerita banyak tentang acara perkemahan pelajar Muslim yg sebentar lagi akan digelar, juga memberitahu bahwa gw menjadi bagian dari tim yg akan mengatur acara tatsqif (pengajian) buat pelajar Muslim se Gn.Putri dan Klapanunggal…(hati gw merasa minder, merasa diri gw amat rendah karena dosa2 yg udah gw lakukin, eh, lakuin..) aditya bercerita dgn semangat layaknya sahabat perjuangan yg sudah lama ga berjumpa, tentang halaqqah, tentang mukhayam, tentang mabit dan syuro Faris…. Bertemu dgn aditya dan ngobrol2 tentang dakwah adalah sapaan-Nya yg pertama malam itu…

Dia minta turun di indomart, mungkin belanja awal bulan buat kebutuhan keluarga, secara dia kan dah merit, ga kayak gw, bujang lapuk ga berharta… (mungkin ini sapaan-Nya yg kedua), sementara gw lanjutin pulang lalu minggir ke Masjid al-Muhajirin buat menunaikan sholat Isya. Ternyata disana ada akhi Budi Prastyo, temen seperjuangan gw yg lain, mantan ketua Lembaga Dakwah Kampus Universitas Pakuan. Ada apa jauh2 dari Wanaherang ke Gunungputri? Malam-malam pula. Rupanya dia mau ngisi halaqah disana… Oo.. hati gw berdesir mengingat masa2 ketika hati gw damai dalam dakwah kayak dia saat ini… (ini sapaan-Nya yg ketiga).

Selepas sholat Isya itu ada yg tidak biasa, seorang syaikh yg janggutnya amat lebat dan selalu berjubah, yg tak pernah gw lihat dia tersenyum, (dan gw maklum, barangkali dia termasuk ke dalam beberapa golongan mukmin yg berat utk senyum karena rasa takut mereka akan siksa neraka), tiba2 syaikh tersebut tersenyum ramah, seolah ingat bahwa aku adalah bagian dari dakwah ini… begitu pula seorang kakek yg sedang berdzikir, tersenyum dan bersalaman dgn gw… di masjid ini, terutama di bulan Ramadhan, gw memang termasuk jama’ah yg terbilang aktif… lagi2 karena melihat senyum mereka, hati gw berdesir… rindu pada diri gw yg dulu… (ini sapaan-Nya yg keempat)

Sambil mengantri di tempat cukur rambut selepas sholat Isya itu, gw baca koran edisi hari ini, Oo.. salahsatu headlinenya adalah berita yg amat relevan dgn kondisi gw saat ini… (ini teguran-Nya yg kelima), gw semakin sadar… bahwa gw telah melangkah terlalu jauh dari-Nya hingga gw merasa bahwa diri gw yg kotor ini tak pantas bergabung dalam barisan dakwah lagi…

Pagi tadi, dengan rambut jelek setelah dipotong di pangkas rambut semalam, sewaktu baca novel di mobil omprengan… berita dari el-Shinta FM mengejutkanku.. lagi2 relevan dgn kondisi gw sekarang… ini teguran-Nya yg kesekian yg datang beruntun sejak semalam… aneh.. seolah Tuhan sedang mengingatkanku agar tak melangkah terlalu jauh dari-Nya… agar tak jatuh dalam jurang kenistaan…

(Bagi mereka yg tak tahu kondisiku, mungkin ga akan cukup mengerti)
Jakarta, 6 Januari 2010. 14.15,


....
Dahulu kita pernah mengikat simpul yang kuat di sini…
ketika itu kita memulai semuanya dari awal…
tahukah antum akhi,
betapa mengharu biru hati dan jiwa ana,
ketika menerima uluran tangan antum dalam da’wah…

ketika ana berpanas-panas pulang kuliah dari Ciputat menuju Riyadhus Shalihin…
ketika semua lelah, kantuk, letih, hilang
saat melihat semangat da’wah yang menyala-nyala,
dari mata antum yang berbinar oleh cahaya iman,
ketika melihat tawa antum yang begitu lepas,

ketika mendengar suara fals antum saat latihan nasyid…
ketika antum hampir saja bertengkar,
ketika mendengar tangis antum yang begitu menyayat…
ketika ana menyediakan seluruh waktu ana untuk antum…
ketika ana mendengarkan keluh dan kesah antum…

waktu itu adalah masa yang indah,
ketika kita begitu takut akan kematian,
ketika kita begitu merindukan surga,
ketika airmata begitu deras mengalir…
saat kita takut kepada huru-hara Yaumil Mahsyar…
saat kita Shalat Tahajjud bersama,
saat kita bermuhasabah,
ketika hari-hari penuh canda,
ketika kita begitu merindukan Tuhan kita…

ingat!!
Ingatlah semuanya akhi…
Saat itulah antum ber’azzam, untuk tetap istiqamah,
Sampai mati…
Waktu itu antum masih remaja, anak SMK…

Namun kini,
Kemanakah perginya iman itu…
Kemanakah ketentraman hati itu…
Dimanakah kini airmata yang mampu memadamkan api neraka?
Sesungguhnya ana larut dalam kenangan masa lalu…
Entah bagaimana ana harus menjelaskan betapa khawatir ana memikirkan masa depan antum…
Entah bagaimana lagi ana harus meyakinkan antum untuk kembali dalam kafilah ini…
bahwa akhirat itu lebih baik dari semua keni’matan dunia yang kini membuai kita…
entah bagaimana ana harus menjelaskan pada antum,
bahwa ana selalu mencintai antum karena Allah….


Akhi,
Sampai kapanpun, ana adalah murabbi antum…




....
....
Padang rumput hijau yang amat luas….
Senja hari…

Di tepian sebuah danau, matahari tenggelam:
langit tembaga kemerahan….

Beburung senja pulang kelelahan.
Aku duduk di sini, tafakkur:
Setiap kali rindu pada Tuhan memeluk jiwaku,
Tangisku jatuh berderai-derai....

--
21 Mei 2009: 21:04



kita tak akan pernah tahu sampai kapan kita akan tetap hidup...


Dua hari lalu, teman meninggal karena kecelakaan. Usianya hanya lebih muda dua tahun dari saya. Motor yang dikendarainya tabrakan dengan truk tronton.
Tahu bagaimana akhir dari kehidupannya?
Begini, badannya utuh. Hanya memar di beberapa bagian.

Kepalanya?

Seperti tomat yang ditekan ujung belakangnya : Gepeng. Sementara ujung lainnya belah karena tertekan.
Saya melihat mayat itu dari dekat. Ya, kepalanya belah. Betul-betul belah menganga, sampai terlihat bagian dalam tengkorak kepalanya yang gelap
Otaknya disimpan dalam plastik.

Begitulah,
ada hidup maka ada mati.
Dan kita tidak akan pernah tahu sampai kapan kita akan tetap hidup.
Sewaktu dia mengendarai motor tentu dia tidak akan menyangka bahwa itulah akhir dari kehidupannya. Perasaan yang sama selayaknya para pengendara sepeda motor lainnya. termasuk saya.
Maka jadikanlah ini pelajaran: dia masih muda!
Dan kita tak akan pernah tahu kapan hidup kita akan berakhir.
Maka tugas kita adalah berfikir:
dengan cara bagaimana kita akan mati?
Dan dengan modal seperti apa kita akan berbekal setelah mati…

--
menjelang Tahun ke-23 usiaku.
Kapan mau nikah? Karena kita tak akan pernah tahu kapan kita akan tetap hidup? Wk..wk..wk..
Semoga jadi lebih dewasa:
080908>>21:07




Ahli kebenaran akan menempatkan kebenaran di atas segala-galanya,
Tetapi ahli hikmah akan menempatkan kebijaksanaan di atas segala-galanya.

Dalam perenungan kehidupan, kita akan melihat ada begitu banyak orang yang merasa dirinya sudah demikian bijaksana, padahal cara pandang kehidupannya jauh dari kebijaksanaan…

Ada orang yang merasa dirinya baik,
Padahal dia bukan orang baik

Jadilah orang yang bijaksana, karena orang yang bijak akan melihat orang lain dalam perspektif yang benar, sementara orang yang tidak bijaksana akan melihat orang lain sebagai orang-orang yang tidak bijaksana (pandangan ini menunjukkan ketidakbijaksanaannya)

Aku teringat ucapan Dik Doank:
Jadilah orang yang baik, karena orang yang baik akan melihat orang lain dengan baik, sementara orang tidak baik akan melihat orang lain sebagai orang yang tidak baik




Wahai diri…
Jadilah kau orang baik
Yang baik kepada semua orang yang baik
Dan baik kepada semua orang yang tidak baik




Ya Allah, ampunilah dosanya,
Rahmati hidupnya,
Jagalah syahwatnya…

Jika Engkau memang berkehendak menguji dia dengan harta, tahta, wanita, dan rupa…
maka itu adalah kehendak Engkau. Ujilah dia, ya Allah…
Namun berikan kekuatan padanya untuk melewati ujian itu dengan benar, dalam ridha Engkau….

Duh Rabbi, tetapkanlah hidayahmu dalam dadanya…
Hingga Engkau berkehendak untuk memisahkannya dengan dunia…

(dalam kaca airmata: 051107. 07:06)




Pada Allah SWT, kepada-Nya kita memuji dengan hati yang lirih. Mengadu dengan jiwa yang luluh, saat menyadari betapa besar nikmat dari-Nya yang tidak kita syukuri. Ketika menyadari betapa besar dosa yang kita perbuat. Kepada-Nya kita bersyukur ketika Allah telah mempertemukan kita dengan pasangan hidup yang kita harapkan muncul ketenangan dan ketenteraman bersamanya. Bertasbihlah memuji-Nya apa-apa yang ada di langit, di bumi, dan apa-apa yang berada di antara keduanya.

Shalawat dan salam atas kecintaan kita, Rasul mulia, Baginda Rasulullah Saw, beserta para keluarga, shahabat, dan ummat beliau yang tetap istiqamah dalam da’wah, hingga tiba hari yang dijanjikan.
Saudaraku, Ketika kita ber’azzam untuk mengambil KEPUTUSAN BESAR itu, maka kita tidak hanya harus siap dengan segala kelebihan yang dia miliki, tetapi kita juga harus siap dengan segala kekurangan yang melekat padanya. Yang bisa jadi di luar pengetahuan kita.

Ketika kita menguatkan ‘azzam untuk memenuhi separuh dari agama ini, maka kita harus siap dengan segala perbedaan yang akan kita hadapi. Mulai dari perbedaan hobi, gaya hidup, cara memecahkan masalah, paradigma, hingga perbedaan karakter. Paradigma kita harus siap dengan segala hal yang mungkin terjadi di luar perhitungan kita. Kita harus mengantisipasi hal-hal yang tampaknya tidak mungkin. Hati kita bahkan harus mengantisipasi, bahwa ada hal yang tak terantisipasi.

Untuk ring pertama, kita dan pasangan, perbedaan ini mungkin dapat kita redam. Tapi bagaimana dengan orang-orang lain di ring kedua? Ipar, mertua? Lalu ring ketiga, tetangga?
Ketika kita menguatkan ‘azzam untuk mengemudikan bahtera itu, kita harus menyelami dalam hati kita, bahwa bahtera yang akan kita kendarai, adalah bahtera besar. Namun lautan yang akan kita arungi adalah samudera kehidupan yang luas. Tidak hanya sebentar, tapi bertahun-tahun. Maka jika dalam perjalanan kita menemui ombak besar, bermusyawarahlah dengan baik untuk memecahkan masalah bersama-sama. Hilangkan egoisme pribadi, berfikirlah rasional, jangan emosioal. Karena kita tidak akan sampai pada keputusan yang tepat selama emosi lebih dominan daripada rasio. Jika masalah telah reda, dan kita menemui pelayaran yang teduh dan tenang, syukur pada Allah adalah bukti keimanan.
Pelayaran ini adalah pelayaran besar, kita hanya tinggal memilih, menjadi nahkoda keras kepala yang akhirnya tenggelam dalam lautan bencana, atau menjadi nahkoda bijak penuh hikmah yang menuntun penumpangnya berlayar menuju surga. Kita, para suami, adalah nahkoda itu.

Kita, tidak sedang mencari wanita yang sempurna dengan segala kesempurnaannya, yang tampak seolah jelmaan malaikat tanpa cela. Akan terlalu melelahkan entah sampai kapan bagi kita, menemukan pasangan ideal seperti itu. Kita berpasangan dengan manusia. Yang pada fitrahnya memang tidak terlepas dari khilaf. Maka, hai Nahkoda! Sadarilah istrimu adalah manusia. Dia bisa khilaf. Dia bisa lupa. Dia butuh cinta, dia butuh pengertian. Dia butuh waktu untuk berdua dengan antum.
Dikarenakan Allah telah memilih kita, para lelaki, untuk menjadi imam bagi wanita, maka ingatlah pula firman Allah..

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…"(QS. 66:6)

Jaga dia, karena dia adalah tulang rusukmu. Hati-hati dengan ucapan yang menyakiti hatinya, karena wanita adalah makhluk yang lembut dan peka. Apabila dia laksana cermin yang berdebu, maka bersihkanlah dia dengan perlahan penuh cinta. Karena jika engkau membersihkannya dengan keras, ia akan terluka, tetapi jika engkau membiarkannya, ia akan tetap berdebu.

Akhi, cintai dia sepenuh jiwa ragamu. Lindungi dan jagalah kehormatannya.
Ukhti, cintailah dia sepenuh jiwa ragamu. Ketaatanmu padanya adalah wujud kecintaan engkau pada Allah.
“Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka” (QS. 2:187)
“Bârakallâhulaka, wa baraka ‘alaika. Wa jama’a bainakuma fî khairi.”
“Semoga keberkahan Allah untukmu, dan keberkahan atasmu. Dan menghimpun kalian berdua dalam kebaikan. Amiin.”

Wassalâmu’alaikum Wr. Wb.


akhukum fillah. >>Sigit Kamseno (masih bujangan neh…doain ane dunkz!!)
--ini ucapan pernikahan yang selalu aku tulis untuk saudara2ku di jalan dakwah....--

bookmark
bookmark
bookmark
bookmark
bookmark

followers

Pemikiran Islam

Pemikiran Islam
Committed to the Truth