catatan siapa ?

ilmu yang beramal, amal yang berilmu

Tampilkan postingan dengan label catatan harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan harian. Tampilkan semua postingan


Yang namanya lomba mewarnai untuk anak-anak dimana-mana sama saja: ibu-ibu yang mengantarkan anaknya terlihat lebih “ribet” daripada peserta itu sendiri.

“dindingnya warnanya kuning,nak!”

“daun warnanya hijau dong, bud!”

“warnanya dikasih gradasi supaya bagus!!”

“gunungnya masih ada putihnya, tuh!!”

Saya, yang diminta panitia untuk menjadi juri dalam lomba mewarnai untuk anak-anak dalam rangka memperingati Hari Kartini kemarin, senyum-senyum saja melihat tingkah ibu-ibu itu. Sekali lagi, dimana-mana sama.

Efeknya, alih-alih membuat gambar anaknya jadi lebih bagus, ‘sabda’ ibu-ibu itu lebih merupakan tekanan psikis bagi peserta. Sebagian, terutama untuk kategori anak usia 3 tahun, ada yang menangis, sebagian cemberut khas anak-anak, dsb. Pokoknya kalau kita melihat ekspressi ibu dan anak-anak itu dalam perlombaan, semuanya jadi serba lucu.

Si ibu berkeras bahwa warna daun harus hijau, kucingnya belang cokelat, biar gambar anaknya bagus dan mendapatkan gelar Juara Satu. Orang tua mana yang tidak bangga melihat anaknya mengangkat trophy kemenangan tinggi-tinggi. Sebuah ekspektasi orangtua yang “mengintimidasi” psikologi dan daya kreatif anak.

Saya jadi teringat buku yang ditulis oleh Jordan Ayan yang iseng-iseng saya baca sewaktu kuliah dulu, judulnya “Aha! 10 Ways to Free Your Creative Spirit and Find Your Great Ideas” (tapi berhubung bahasa inggris saya ancur, jadi saya baca terjemahannya dari penerbit Kaifa: “Bengkel Kreativitas : 10 Cara Menemukan Ide-ide Pamungkas” ^_^)

Bab-bab pertama dalam buku itu menjelaskan bahwa “pembunuhan” daya kreatifitas kita, orang-orang yang dewasa ini, dimulai dimasa kecil kita. Bagaimana semenjak di sekolah dasar, kita diharuskan mewarnai daun dengan warna hijau, sementara langit harus, sekali lagi harus, berwarna biru. Anak-anak seperti diarahkan untuk berbuat sesuatu yang “benar” dalam pandangan orang dewasa padahal membelenggu dalam dunia anak-anak.

Orang dewasa, entah orangtua, entah guru di sekolah dasar, dengan “egois” memaksa anak-anak berbuat sesuai obsesi mereka, sehingga anak-anak kesulitan untuk mengaktualisasikan ide-ide dalam benaknya kedalam media yg mereka miliki. Dilarang untuk menggunakan ballpoint berwarna-warni, dilarang mencoret-coret dinding kamar, dll. Dari sinilah proses penurunan daya kreatif bermula.

Itulah alasan mengapa ketika Jordan Ayan membuat simulasi kepada peserta dalam sebuah trainingnya dengan pertanyaan, “tulislah sebanyak mungkin benda apa yang bisa anda buat dari sebuah kaleng kosong? ”

Kebanyakan peserta training tidak memberikan jawaban yg variatif. Jawabannya hampir seragam dan tidak menemukan banyak ‘benda yg bisa dibuat dari kaleng kosong’. Jawaban orang dewasa melulu berbentuk celengan, tempat pensil, tempat kelereng, telpon-telponan, robot, dan sejenisnya yang juga merupakan jawaban rata-rata dari kebanyakan orang. Bandingkan dengan jawaban anak-anak, “tempat serangga, topi untuk kurcaci, industry, pedang, hingga jawaban bahwa kaleng itu bisa dipanaskan dan dicetak menjadi baju perang, dsb. Daya kreatif anak-anak mencapai tingkat originalitas hampir 100%, sementara orang dewasa hanya 5% saja. Semakin tua usia sesorang, dia akan semakin kehilangan daya kreatifnya.

Dalam buku itu disebutkan beberapa hal yang menurunkan daya kreatif kita, yaitu:

Kebiasaan,

waktu/kesibukan,

dibanjiri masalah,

tidak ada masalah,

takut gagal,

kebutuhan akan sebuah jawaban sekarang,

kegiatan mental yang sulit diarahkan (kita mudah mengarahkan kegiatan fisik kita, tapi sulit mengarahkan kegiatan mental kita yg akut bukan?),

takut bersenang-senang,

kritik orang lain.

--
Buku itu saya beli di kaki lima, buku asli bukan bajakan lho! Kalo ga salah harganya Rp.15.000,- lagi discount 60% mungkin. Sebuah buku yang bermakna seperti testimony yang ditulis di lembar-lembar pertama buku itu,

“harga satu halaman buku ini sudah setara dengan uang yang Anda keluarkan untuk membeli buku ini. Sehingga halaman-halaman berikutnya anda dapatkan secara gratis!"

Kalimat yg menarik ya! So, be creative!

Dan, jangan paksa anak memasuki dunia anda!

--
Kantor, 26410:15.24


Tidak mudah untuk mempercayai bahwa di dekat Jakarta ini, dekat ibu kota Indonesia ini, ada sebuah
perkampungan dimana rumah-rumah penduduknya masih beratapkan daun-daun dari pohon rumbia,
dengan dinding terbuat dari bilik-bilik bambu.

Setiap kali melintas sebuah mobil di jalan setapak di depan rumah mereka, warga sekitar: ibu, bapak,
dan anaknya, akan menatap mobil itu seperti baru pertama kali melihatnya.

Sebuah daerah yang amat menyengat di musim kemarau, dan banjir di musim hujan. Saya sendiri sempat naik perahu untuk menembus daerah ini karena punya project untuk merenovasi satu sekolah gratis disana.

Dengan motivasi menyekolahkan anak yang begitu rendah, ditambah kondisi ekonomi yang tidak maju
(yang membuat paradigma kehidupan masyarakat di daerah ini begitu sederhana) menjadikan daerah
ini tertingal dari daerah pinggiran ibu kota lainnya.

Adalah Yayasan Sekolah Rakyat Bekasi yang menembus daerah ini, Muara Gembong, kecamatan paling pelosok di Utara Bekasi, dan mendirikan sebuah Sekolah Dasar gratis di atas lahan pemberian warga yang diberi nama Sekolah Dasar Terpadu Harapan Jaya. Sebuah sekolah yang didedikasikan untuk masyarakat di daerah ini. Masyarakat yang berpandangan bahwa sekolah cukup hingga kelas tiga, lalu berhenti ketika sudah bisa membaca, dan selesai. Masyarakat yang lebih menyuruh anaknya ke sawah daripada mengikuti ujian nasional. Masyarakat dimana anak-anak mereka berpanas2 membantu orang tua bercocok tanam di sawah sepulang sekolah bahkan masih mengenakan seragam. Masyarakat yang punya paradigma amat praktis dan sederhana…

Dan, keluarga bapak Hendri adalah keluarga yang mendedikasikan hidupnya untu kemajuan pendidikan di Muara Gembong. Ia, kakaknya, beserta kedua adiknya, bahu membahu menjadi guru di sekolah gratis bagi anak-anak petani . Tanah yang diwakafkan untuk sekolah ini pun adalah tanah milik ayah mereka. Seorang yang sudah tua, namun memiliki jiwa ‘pahlawan’ luar biasa. Ia mendidik anaknya hingga tingkat universitas, untuk membangun daerah ini. Seluruh anaknya menjadi guru di SDT Harapan Jaya.

Mungkin kita cukup terbiasa melihat para pahlawan seperti ini di Kick Andy, namun melihatnya dengan kepala sendiri, mengobrol dengan mereka, sungguh membawa hikmah dan inspirasi yg dalam bagi jiwa. Betapa kepedulian akan masa depan warga, yang bukan keluarga mereka, menjadi visi keluarga. Sebuah keteladanan nyata tentang arti dari sebuah dedikasi dan kepedulian sosial tanpa mengharap imbalan. Semoga kita bisa meneladaninya.

Ternyata, pahlawan itu ada disini, di sekitar kita.
200410/15.04



Kalau anda pernah membaca blog saya tentang pengamen2 ideologis, yg seringkali membawakan puisi2 kiri nan revolusioner di bus kota, kini saya dihadapkan pada kenyataan yg miris.

Beberapa pekan ini, eksentrisitas pengamen itu sudah tak tampak lagi. kini tak ada lagi seruling sunda yang biasa ia tiup merdu. Tak ada lagi puisi-puisi kaum kiri yang revolusioner karya Wiji Thukul, Pramoedya Anantar Toer, atau puisi2 karya WS Rendra, yang ia baca dengan mengibakan hati di bus-bus kota kala senja beranjak tiba.

Kini yg mengibakan justru adalah keadaannya. Ia tak lagi revolusioner, ia telah menyerah pada keadaan. Ia akhirnya harus mengakui bahwa ia merupakan bagian dari kaum proletar yg berjuang mati-matian untuk bertahan hidup di tengah kapitalisme Jakarta. ia kini menjual komik kepada masyarakat borjuis (kalau boleh disebut demikian) perkotaan.

“komik-komik, komik sekali baca. Kalau anda sengaja membeli di gramedia harganya bisa mencapai Rp.30.000,- berhubung kami langsung dari agen, anda cukup membayar Rp.10.000,-”

Suara itu membuat saya terhenyak. Tersadar bahwa kehidupan kita begitu keras. Bahwa mencoba mempertahankan idealism ideologis di tengah dunia yg begitu real tak akan cukup mampu membawa diri pada rasa aman untuk mempertahankan hidup. Apalagi ideology yang memang tak sesuai dengan nalar zaman.

Hati saya sakit. Meski saya tak setuju dengan ideology kiri yg dibawakan pengamen itu, namun saya kagum pada cara dia menyampaikan puisi-puisinya, begitu memilukan, ekspressif, artikulatif, dan diselingi dengan seruling sunda yang menyayat hati. Artistik. Mengesankan!

Saya hanya berontak pada keadaan ini. pada dunia yang begitu tak adil. Pada hidup yang begitu keras.

***
Aku tak perlu jauh mengembara ke Sudan dan Somalia,

Hanya untuk melihat mereka yang lapar menderita…

Aku tak perlu berjalan menyusuri Afrika,

Untuk melihat anak kecil minta susu pada ibunya merengek iba…

Antrean panjang menanti beras dan dua bungkus mie instan…

Untuk melihat lalat yang menempel di sekujur badan,

Untuk melihat yang tertidur di tepi-tepi jalan,

Untuk mereka yg menjadi gembel di jembatan penyeberangan..

Aku hanya perlu berjalan melangkah,

Menuju Jakarta,

Dan lihatlah semua realita kita…

Allahu Akbar!!

bumifana:14.00, 1304010


Saya kagum pada teman lama saya. Meski tidak terlalu dekat, kami cukup akrab. Saya mengenalnya beberapa tahun lalu ketika awal-awal saya mengenal dunia tarbiyah. Kini dia sudah beristri  (kapan neh gw…?)

Ternyata oh ternyata, istrinya adalah seorang ukhti yang secara fisik tidak cantik, saya yakin semua laki-laki akan bersepakat dengan saya. (kalau cantik kan biasanya relative, tapi kalau jelek kan biasanya mutlak dan kita sepakat ya?? Hehe… ), Secara manusiawi mungkin orang akan berfikir bahwa dia tidak sepadan dengan suaminya. Suaminya tinggi, putih, like Chinese.

Namun “ketidaksepadanan” ini yang justru membuat saya kagum. Saya selalu kagum pada setiap orang yang memposisikan fisik dalam level nol persen utk memilih pasangan hidup, sebuah hal yang sampai saat ini belum mampu saya lakukan.

Saya memang tidak memposisikan fisik pada urutan pertama. Saya lebih mengutamakan akhlak yg baik (dengan segala derivasi dan definisi yg terkandung dari kata “akhlak yang baik” itu).

Tidak akan saya jadikan istri, seorang perempuan yang cantik namun berakhlak buruk. Bagi saya akhlak yg baik adalah harga mati! Sesuai dengan anjuran Baginda Rasul sebagaimana saya pahami, yang sesuai dengan nalar saya tentang interaksi kita pasca menikah, dimana saya akan bersamanya dalam bentang waktu yang amat panjang.

Setelah first priority akhlak itulah, kemudian saya memberikan porsi fisik sebagai tuntutan manusiawi saya sebagai lelaki. Tidak harus cantik, cukup yang sedang2 saja. maksud saya, “asal ga jelek-jelek amatlah.. ..hehe…

Bagi saya ini pilihan yang cukup masuk akal. Saya tak akan memaksakan diri untuk “beridealisme dengan memilih istri yg berakhlak baik meskipun secara fisik tidak menarik,” karena hal itu justru akan membuat dia terluka apabila saya tidak mampu “menutupi” gesture dan ucapan saya yg tidak tertarik kepadanya pasca menikah.

Saya akan menikah, dengan wanita yang menarik di hati saya, pertama karena akhlaknya, kedua karena saya tertarik pada penampilannya. Untuk urusan harta dan keturunan, saya tak memberikan prioritas sama sekali.

Rasulullah Saw bersabda,

“Mengapa tidak (kau nikahi) gadis yang ia dapat bermain denganmu, dan engkau dapat bermain dengannya, engkau menggigitnya dan ia menggigitmu?” (HR. an-Nasa’I)

Beberapa teman sudah memiliki pasangan hidup, tidak semuanya cantik--paling tidak menurut saya--. Mereka hebat dan saya kagum pada cara pandangnya.

Saya kapan?

13/04/10 13.21


Beberapa waktu terakhir ini saya dihadapkan pada pilihan yang sebetulnya tidak terlalu berat, tapi cukup membuat gamang untuk mengambil keputusan.

Ceritanya begini, sebagai lajang yang ingin segera memenuhi tuntutan separuh dari agama, saya berusaha untuk mencapai sudut yang aman secara finansial, hal ini sebagai logika rasional utk menyambung hidup setelah menikah. Untuk bisa bertahan hidup dengan istri dan anak-anak kelak.

Saya tidak ingin terjebak pada pola pikir fatalistik yang menyerahkan masa depan pada sesuatu yang masih mengambang. Bukan tak yakin bahwa Allah-lah yang Maha Mengatur Rizki, tetapi justru karena meyakininya, seraya berpandangan bahwa rizki yang Allah berikan itu memiliki jalan rasional, orang sunda bilang, “sagala rupa oge aya sare’atnya, teu ujug-ujug dongkap nyalira!”. Segala sesuatu itu ada jalannya, tidak datang secara tiba-tiba. Entahlah, apakah ini sebuah apologi untuk menutupi iman yang kurang atau bukan, anda boleh tidak setuju dengan cara pandang saya tentang hal ini.

Masalahnya, saya merasa kurang comfort dengan lingkungan kerja saat ini. Zona nyaman saya adalah bergaul dengan para ustadz, karena semenjak sekolah hingga kuliah, lingkungan saya adalah “lingkungan orang2 ‘alim”. Zona nyaman ini kemudian menjebak karena secara psikologis saya merasa kurang dapat menyatu dengan “dunia luar” yang real. Bahwa di dunia yang jauh lebih luas, ada jauh lebih banyak orang 2 yang memiliki paradigm yang berbeda dengan saya. Kelemahan saya adalah pada level interaksi.

Saya cukup akrab dengan rekan kerja, terbiasa becanda dan kerjasama. Namun “nuansa ukhuwah bersama rekan2 dakwah” itulah yang membuat saya membandingkan bahwa interaksi saya di kantor menjadi hampa karena hubungannya memang semata hubungan professional, bukan emosional layaknya sesama aktivis.

Sementara disisi yang lain, secara financial saya merasa cukup aman bekerja disini. Meskipun tidak terlalu besar, tapi cukuplah untuk sekadar menyambung hidup sebagai keluarga kecil di awal-awal pernikahan.

Kalau saya melepas pekerjaan saya saat ini karena ketidaknyamanan secara emosional, berarti saya akan berhadapan dengan dunia financial yang tak pasti pasca menikah. Meskipun calon istri sudah bekerja dan bergaji cukup seperti saya. Saya tidak akan membiarkan dia bekerja selamanya. Bagi saya, pasca melahirkan, istri cukup di rumah dan tidak melewatkan masa-masa emas pertumbuhan anak. Artinya, financial saya sebagai suamilah yang harus aman.

Apakah dengan menjadi guru nyaman secara emosional? Ya! Berdasarkan pengalaman, saya merasa sangat nyaman menjadi guru. Tetapi secara financial tidak aman. Keadaannya akan berbanding terbalik dengan pekerjaan saya saat ini.

Ah..saya pikir, saya telah mempersulit diri sendiri dalam dunia konseptual! Terlalu banyak berteori, padahal ambil keputusan! Dan semuanya selesai! Hadapi resiko!
Jika demikian saya menjadi seorang fatalis bukan? ^_^

13 April 2010. 11:48


Cerita diawali dari perjalanan pulang kantor yg salah naik bus. Setelah nunggu hampir satu jam lamanya sampe tumbuh toge, di kejauhan persimpangan lampu merah ane melihat bus langganan melintas berbarengan dengan bus lain. Seketika hati ane sumringah berbunga-bunga… akhirnya bus tersebut datang juga!!

Tanpa ba-bi-bu langsung lompat ke pintu bus dan duduk dengan nyaman..

hmmmbwahh…

sampe di pintu tol kondekturnya nagih ongkos..ow..ow.. syukur campur bingung..ongkosnya turun jadi 7ribu saja..!

Ternyata saudara2, ane malah naik bus jurusan Jati Asih, Bekasi. Dah ga bisa turun kecuali selepas tol. Jadi ane akan muter2 meraba jalan pulang ke Cibinong.

Dalam perjalanan pulang itulah, malam2 diselimuti rasa lelah, dengan ongkos yg tinggal pas-pasan di kantong, ane mengobrol dgn beberapa penumpang.

Satu dari mereka yg ingin ane garis bawahi. Ibu2 berjilbab. Tampaknya seorang aktivis dakwah.. semangat dakwahnya luar biasa, terkesan over.

Ane ga nyaman mendengar “taushiyyah2” dia tentang syukur, tentang sabar, dsb, kepada penumpang seorang pedagang kakilima yg kesasar ke daerah Jati Asih yg disampaikan dengan doktrinasi.

Si ibu bilang bahwa “bapak ini terlalu mengutamakan nafsu daripada akal,” si bapak tampak membela diri dengan aksen bandungnya yg ramah, tapi si Ibu bilang dengan nada dicanda-candakan, “susah nih,, si bapak dari tadi menyangkal terus…” si bapak makin tampak tersinggung.

Beberapa kali ane berusaha membelokkan pembicaraan ke seputar nyasar2 ane dan si bapak itu. Tapi si ibu kembali “berdakwah”. Tidak sadarkah dia bahwa si bapak ini sedang lelah kesasar di Bekasi? Dia butuh motivasi, bukan judge bahwa dia lebih mengutamakan nafsu daripada akal yg berkali2 disangkalnya.

Ane teringat dengan sebuah pedoman dakwah para da’i, “ud’u ilaa sabiili Rabbika bil hikmah” (serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yg baik (QS. An-Nahl; 15:125 ), berdakwah tidak harus melalui ceramah2. Tidak perlu lewat taushiyyah2 apalagi dlm kondisi yg tidak tepat. Tidak perlu membacakan ayat, tetapi menampilkan akhlak yg baik sebagai implementasi dari ayat, itu jauh lebih mudah diterima masyarakat.

Ane jadi teringat dengan seorang akhwat da’iyah yg langsung menyalahkan ane dalam suatu acara partai Islam, dimana ane baru mendapatkan segenggam stiker yg baru ane terima dan akan ane sebarkan ke peserta, ketika dia melihat ane secara tiba2 dia bilang, “itu stikernya dibagikan akh! jangan dipegangin aja!” Subhanallah..ane tersenyum karena senyum adalah cara terbaik melihat perilaku “lucu” sesorang (anggap aja hal itu lucu dan menyenangkan…)

Tak tahukah ia bahwa stiker itu baru saja sampai ditangan ane satu menit sebelumnya?

Sampai ahirnya ane mengambil kesimpulan bahwa “keakhwatan” seseorang memang tidak berbanding lurus dengan akhlak mulia. Tak ada korelasi postif antara keakhwatan dgn akhlak yg baik.

Ada banyak akhwat2 yg gampang menjudge sesuatu sebagai hal yg tidak benar (tentu menurutnya; sesuai batas pengetahuannya) dengan cara yg doktriner dan kurang luwes.

Sebaliknya ada juga perempuan2 yg tak berjilbab tapi berakhlak baik.
Jilbab tentu kewajiban, dan berdosa jika perempuan tidak mengenakan hijab sekalipun dia berakhlak baik. Namun selayaknyalah para akhwat berjilbab juga menjilbabi hati dan akhlaknya dengan akhlak mulia sebagaimana yg diajarkan Sang Nabi, “innama bu’itstu li utammima makaarima al-akhlaaq” (HR. Ahmad dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no.45)

Tidak semua telinga orang mudah menerima ceramah, tapi semua orang kagum melihat akhlak yg baik…

--
Lihat sikon kalo dakwah ya… 15.310. 11.12


Pengamen susul menyusul, dari lampu merah Bank Indonesia sampai Sarinah, disusul pengamen berikutnya dari Tosari hingga Semanggi, dan dari Semanggi sampai sini (dimana neh?? Di tol dalam Kota kayaknya)

Pengamen yg terakhir ini unik, bukan alat musiknya yg hanya okulele dan gendang karet, tapi keakraban mereka berdua. Sedari awal naik ke bus mereka sudah saling tertawa, becanda. Akrab banget. Ceria banget.

Tiba2 gw merasa iri, Dunia indah banget ya kalo punya sahabat sejati, hingga kita tidak merasa kesepian di tengah ramainya kehidupan.

--
22 Januari 2010.


untuk mereka yg bekerja di Jakarta, pemandangan seperti ini amat biasa.
jalan tol ditutup oleh polisi-polisi yg amat sibuk.

jalan di depannya menjadi amat lengang....
gerangan ada apakah kisanak?
Presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia, mau liwat!

negara ini seperti kerajaan saja, bukanlagi negara demokrasi dimana egaliterianisme dijunjung tinggi.

Bagi para pengamat, cara2 arogan seperti ini memang tak pantas di alam demokrasi. tapi secara realistis, mengingat jakarta yg macetnya "gila-gilaan" (gila-gila'aaaaaaannnn... pake nadanya 'The Changcuters'), mungkin ada baiknya mengingat persiden punya banyak agenda yg berimplikasi pada rakyat banyak. jangan sampai agenda yg teramat sangat penting piisaaaann itu tergangu hanya karena macet yg (siap2 lagi pake nadanya 'The Cangcuters')"gila-gilaaaaan"!!

Bagi masyarakat kita, hal seperti itu juga wajar, karena inferioritasnya sebagai rakyat jelata yg besar dalam feodalisme berabad2 lamanya, semenjak zaman kerajaan, kesultanan, Republik Indonesia Serikat, demokrasi pancasilanya Soeharto, sampe sekarang.

Gw jadi teringat film kolosal "Saur Sepuh" yg gw tonton di teve waktu gw masih belum berdosa dikala masih duduk di bangku SD.

Waktu itu Brama Kumbara, yg kelak menjadi Raja, masih kecil. Di pinggiran pasar ia dan ibunya terseok2 terimbas popor tombak prajurit yg melebarkan jalan karena Gusti raja akan melintas. Ada seorang rakyat yg tergopoh2 masuk ke jalan karena akan mengambil barang miliknya yg terjatuh, dipopor oleh gagang tombak prajurit. hmmmhh... beginilah Indonesia dari dulu hingga sekarang, kalau raja mau melintas, "kalian rakyat2 jelata, MINGGIR!!!"

Gw tetap optimis di masa depan, menjelang Hari Yang Dijanjikan, akan berdiri sebuah pemerintahan yg adil dan bijak bestari. Sebuah khilafah 'ala minhajin nubuwah sebagaimana disabdakan kanjeng Nabi Saw, kepada Huzaifah ibn Yaman Ra, sebagai fase terakhir yg akan dilalui Kaum Muslimin. Sebuah negara modern di masa depan, namun tetap berlandaskan aturan2 langit yg menjunjung tinggi keadilan, egaliterianisme, kesederhanaan, dan seperangkat nilai positif lainnya yg menjadi rahmat bagi semesta sebagaimana dicontohkan oleh Khulafa al-Rasyidun dan 'Umar ibn 'Abd al-'Aziz.

Sebuah optimisme yg menjadi idealisme para aktivis da'wah, dan pada saat yg sama dipandang sebagai sebuah utopianisme oleh aktivis liberalisme Islam.

08/01/10. 09:42


di Bus sore ini, gw lagi baca novel sejarah. Laskar Sabrang, yg berkisah tentang intrik politik Kerajaan Mataram dengan membangun sagarayasa sebagai medan latihan laut untuk menyerang Batavia. tokohnya Arya Sindura, seorang manggala pasukan pedang. rekan2 perlu membaca novel semacam ini, dan temukanlah kearifan lokal khas masyarakat nusantara kita.

Bicara kearifan, suasana dalam bus ini jadi amat relevan. Menarik. Gw emang terbiasa membaca suasana, merenunginya, meski dari hal2 yg paling sederhana. seorang kakek dan seorang perempuan muda 'berjilbab standar' yg duduk di samping gw sedang ngobrol akrab, tampaknya mereka baru saling kenal di bus ini. Kakek yg ramah, sedang mengobrol dgn perempuan muda yg ramah.

Sebelum menikmati cemilannya, perempuan itu menawariku, ramah sekali. Rekan2, ini yg gw maksud kearifan lokal masyarakat kita yg terjaga lestari jauh sebelum zaman Arya Sindura, hingga hari ini.

Terbalik secara diametral dengan pria muda yg sedang berdiri itu, semenjak naik bus dia meracau tiada henti.

"udaaaaahhh!! maju, pir!! (penumpang) ini manusia, bukan tape!!" suaranya cempreng dgn intonasi yg provokatif dan menjengkelkan. Beberapa menit kemudian dia berteriak lagi, "buka!! itu timer kali! buka!!"
Lagi2 teriakannya amat ga beradab! gw tersenyum simpul mendengarnya.

sewaktu ada mobil terjepit di samping bus yg kami tumpangi, dia kembali meracau, mencari teman ngobrol, tepatnya mencari pendengar setia utk mulut besarnya yg provokatif itu...

ini jadi pelajaran berharga buat gw, bicaralah dgn lemah lembut sebagai cerminan dari akhlak yg baik.

--
"ya Allah, karuniakanlah padaku akhlak yg baik...!"
070110. 18:52


Beberapa hari ini gw keranjingan baca novel. Awalnya cuma karena malaz menghabiskan waktu di kemacetan lalu lintas tanpa kegiatan yg berarti. Gw emang suka baca buku sejak SMP. Tapi disela-sela macet, baca buku2 filsafat atau buku politik yg berat2 malah runyam kan? Akhirnya gw putuskan utk membaca novel, bacaan ringan. Namun bukan novel2 kacangan, gw suka novel yg memiliki value buat kehidupan gw, buat paradigm dan sikap gw keseharian.

Gw baca Ayat2 Cinta untuk kesekian kalinya, ga butuh banyak waktu, cukup ketika masuk tol jagorawi, dan berakhir di kawasan bundaran HI. Sekitar 2-2,5 jam ketika berangkat kerja. Begitu pula ketika pulang, macet jadi ga kerasa. Biarin aja orang melihat gw nangis haru atau tersenyum simpul. Mungkin gw juga terlihat konyol karena dalam perjalanan pulang kantor ketika lampu bis dimatikan, gw tetap baca buku dgn menyalakan senter kotak 3in1 sepuluh-ribuan sebesar HP, senter itu gw taruh di dada, dan gw tetep baca.

Selesai Ayat2 Cinta, gw ulang lagi novel lama, Tetralogi Laskar Pelangi, biasanya 2-4 hari tamat. hmmhh.. gw suka! Lama2 gw beli novel2 lain, terutama novel dgn latar sejarah: perang Mataram, sejarah kelam Ethiopia awal abad 20, atau novel yg mengambil latar Perang Salib. Gw suka dgn novel2 yg seperti itu, novel2 yg menginspirasi. Biar gw memandang perang dari perspektifnya yg berbeda, gw merasa ada kisah yg terselip dan tak tersentuh dari hiruk pikuk perang-perang itu, yg tak mustahil terjadi di alam nyata.

Namun, ke depan rasanya gw akan baca buku2 serius utk melawan macet2 ini, entah itu buku2 umum, maupun buku2 religi. Saat ini selain beberapa novel lain, ada buku2 lama di rak buku kamar gw yg belum gw baca. gw juga pengin beli beberapa buku: bukunya Musthafa A’zhami ttg historisitas al-Qur’an from Revelations to Compilation, bukunya anak2 JIL ‘Menjadi Muslim Liberal’ buku lama yg baru sekilas gw baca, Sejarah Para Khalifah dari Hepi Andi Basthani, seorang aktivis da’wah, Fiqh Lintas Agama bukunya para intelektual2 itu, bukunya anak2 intelektual dari Insist kayak Adian HUsaini, Syamsudin Arif, Adnin Armas, dll. juga buku Babad Tanah Jawa…

--
Buku adalah teman duduk terbaik diwaktu senggang,
kapan eeaa ada waktu ke Gramedia??
06/01/10. 15:45




Gw inget, beberapa waktu lalu ada seorang akhwat meracau di facebook… di hampir semua status wallnya dia menghempaskan semua gelisahnya… kadang bersyukur pada Allah atas petunjuk-Nya yg telah memisahkan dia dgn seseorang, tapi ga jarang di beberapa forum dan wall dia menuangkan kebenciannya yang meluap-luap.. aneh..

gw maklum sama akhwat itu, cinta memang amat emosional, cinta mengalahkan rasionalitas, kita tidak bisa bertanya mengapa kita mencintai seseorang, karena cinta adalah 'meskipun' bukan 'karena'. aktivis dakwah juga bisa jatuh cinta, seperti dia.

namun gw bertanya, apa bedanya akhwat yg halaqah dan tidak halaqah ya? Ternyata akhwat2 yg ikut halaqah juga banyak yg tidak dewasa, sebagaimana yg tidak halaqah juga belum tentu tidak dewasa dalam memandang dan bersikap. Ini kasuistis tentu, gw juga tetap mengakui kelebihan para aktivis akhwat yg lebih baik daripada yg tidak terlibat dalam dakwah, terutama paradigm kehidupan dan kesantunannya dalam bersikap.

Perempuan kalau sedang marah, egoisme dan temperamennya sukar diredam, seorang akhwat teman seperjuangan gw semenjak sekolah juga mengatakan itu. “Pokoknya kalo perempuan lagi marah, jangan diladenin, diemin aja dulu…” sebuah pandangan objektif tentang perempuan dari seorang perempuan.

Gw sejujurnya, paling ga suka kalo lihat perempuan marah sambil menggerutu.. gerutuan dan muka juteknya itu betul2 menyebalkan. Ini pernah terjadi di temen2 gw, juga murid2 gw sewaktu gw ngajar di sebuah SMA. Melihat cewek yg lagi marah, biasanya gw pergi.

Sigmund Freud, pakar psikoanalisa paling terkenal sejagad ini bahkan tetap tidak mengerti dengan jiwa perempuan… aneh kan?

Di kantor, ada beberapa perempuan yg amat fresh meskipun sudah tidak muda, smart, ramah, dewasa, rasional, nah.. yg begini gw suka. Persis seorang perempuan yg membuat gw pandai berpuisi. Hehe..subjektif banget ya gw.. whatever lahh.. gw cuma pengen bilang, gw suka cewek yg rasional, ramah, dewasa dalam berpikir dan bertindak. Itu semua adalah bagian dari akhlak, maka pilihlah perempuan karena akhlaknya… bukan karena cantiknya,, juga bukan semata karena dia aktivis.

--
kalo cukup dengan cantik, kenapa artis2 itu pada bercerai??
Kantor 06/01/10:15.04pm



Gw beruntung bekerja pada sebuah perusahaan dimana pemiliknya adalah orang yang memiliki kepedulian sosial yg amat tinggi. Beliau menaruh perhatian besar terhadap kualitas pendidikan di Indonesia.

Gw bekerja pada divisi CSR (Corporate Social Responsibility), sebuah divisi yang merupakan implementasi dari kepedulian perusahaan terhadap lingkungan.
--
Gw memang tidak pergi ke Gunung Mahameru, memandang ke batas-batas langit, dan menikmati indahnya semburat tembaga kemerahan kala matahari senja yang kelelahan tenggelam di ufuk barat.

Gw juga tidak pergi ke Parangtritis, menikmati desiran ombak yang berhembus terbawa angin. Memandang jauh ke horizon dan menikmati hidup layaknya surga!

Namun,

Gw pergi ke daerah perbukitan di Bandung, berencana membangun sebuah sekolah SD yang hancur lebur akibat gempa, dimana murid-muridnya kini belajar lesehan di rumah-rumah penduduk.

Gw susuri daerah pantai di utara Bekasi, dimana rumah-rumah penduduknya masih beratapkan daun rumbia dan berdindingkan bilik bambu yang berlubang-lubang. Disini divisi gw punya project membangun toilet untuk sebuah sekolah gratis disana.

Gw juga pergi ke TPST Bantar Gebang, mencium aroma busuk sampah di tengah pemukiman amat kumuh disela-sela gunungan sampah. Entah bagaimana mereka bertahan dengan aroma sebusuk ini…

Gw pergi ke Armo, kawasan pembuangan sampah paling terkenal di Wanaherang, Bogor. Dimana penduduknya menatap gw dengan tatapan curiga dan tak ramah, meski gw berencana membangun sekolah gratis disana untuk mencerahkan masa depan anak-anak mereka .

Gw pergi ke tempat-tempat itu. Menyusuri jalannya, dan memetik berjuta hikmah dari setiap perjalanan yang gw lalui.

Bekerja disini, membuat hati gw menjadi kaya: kaya jiwa, kaya makna.

--
Rumah temen gw, 051209. 14.20


Layaknya puisi Chairil Anwar,

Tiga anak kecil,
Dengan langkah malu-malu,
Datang ke Salemba, Sore itu.

***
Sore ini juga ada tiga anak kecil, bukan ke Salemba, tapi menuju Semanggi. Tiga anak kecil ini, tidak lagi malu-malu.

Satu diantaranya adalah anak lelaki, menjajakan permen jahe dari bangku ke bangku. Barang jualannya masih banyak. Anak laki-laki itu seusia SD, dia botak dan kumal.
Dua lainnya perempuan, sepertinya juga masih SD, sekarang mereka sedang asyik mengamen lagunya ST 12.

Agh! Indonesia!! Entah sampai kapan disparitas sosial ini terus berlangsung! entah kapan eksploitasi terhadap anak-anak akan berhenti!

--
Buskota AC 70. Tn.Abang-Cibinong 241109. 17:51


Mama Shanta adalah istri dari pemilik perusahaan tempat gw bekerja. Menurut informasi yg gw dengar, beliaulah yang memiliki ide untuk membentuk divisi CSR pada perusahaan ini. Sebuah divisi yg didedikasikan untuk membangun sekolah2 di daerah tertinggal.

Mama Shanta amat baik, beliau seorang Hindu keturunan India. Melihat wajahnya seperti melihat wajah amat dewasa yang sangat kalem layaknya seorang yang terbiasa berkontemplasi.
Apatah lagi kalau melihat beliau tersenyum, gw otomatis ikut senang.
Mama Shanta sudah tua, hatinya berkilau seperti emas. Waktu gw nyasar nganter beliau untuk peresmian SD yang kami bangun, beliau tersenyum amat manis dan berucap pelan, “ga apa-apa.”
Demikian pula sewaktu pulang pasca peresmian itu, dia menjemur kembali pakaian penduduk yang dilihatnya terjatuh dari tali jemuran.
Mama Shanta, baru satu kali aku meliihatnya,
aku kagum.

03 November 2009


Pertama kali gw melihat wajahnya di tv dalam acara debat calon presiden tahun 1999, sebuah acara yg cukup “revolusioner” sejalan dengan ranah politik Indonesia yang baru mendaklarasikan reformasi waktu itu.

Waktu itu gw masih SMP, gw ingat betul waktu itu dia jadi panelis bersama pengamat politik Eep Syaifullah Fatah. Capres2nya adalah Amien Rais dari Partai Amanat Nasional, Yusril Ihza Mahendra dari Partai Bulan Bintang, Didin Hafidhuddin dari Partai Keadilan, dan Sri Bintang Pamungkas dari Partai Uni Demokrasi Indonesia (PUDI).

Imam B. Prasodjo adalah sosiolog kenamaan dari UI, gw termasuk salah seorang hidden fansnya. Makanya waktu pekan lalu head gw ngajak ke rumahnya, gw langsung setuju.
Sesampainya di rumah beliau, gw duduk di ruang tamu, atau lebih tepatnya, “gudang buku” kali. Ia turun dari lantai dua dan menyapa kami sangat hangat: “hello” katanya.

Semakin lama ngobrol2 dengan beliau, semakin kagum gw.
Kami ngobrol2 tentang project bersama antara divisi CSR dimana gw bekerja, dengan LSM Yayasan Nurani Dunia yg dia pimpin.

Imam B. Prasodjo bukan cuma dosen teoritis. Dia turun langsung “membentuk manusia” di daerah2, membuat konsep2 untuk project pendidikan, kemanusiaan, penghijauan, plus pembangunan di daerah2 tertinggal, seperti Badui misalnya.

Beliau adalah sosok yg persis mewakili kalimat yang secara tak sengaja gw baca di punggung buku di lemari besar ruang tamunya: “menjulang ke langit, mengakar ke bumi.” (tampaknya sebuah buku karya sastrawan Taufik Ismail ya?)

Gw menerka-nerka, mungkin maksudnya adalah ide2 seorang intelektual sudah semestinya menjulang menggapai langit: melahirkan gagasan2 yg visioner, sistematis, atau istilah kerennya, “melampaui zamannya.”

Tetapi hendaklah para intelektual itu tidak terjebak layaknya menara gading yang menjulang indah namun tidak berdayaguna. Mas Imam adalah sosok yg mengakar ke bumi, menyatu dengan masyarakat, bahkan hingga ke pedalaman badui, membangun disana, dengan tetap menghargai tradisinya.

03 November 2009





kaki lima di bus kota...

Gw lagi menikmati macet panjang dari kawasan Thamrin tempat gw kerja menuju Cibinong. Macet biasanya baru berakhir setelah melewati pintu tol Cibubur. So gw akan sampe rumah sekitar jam 20.00 atau 20.30 lewat dikit.

Pulang kerja begini pasti banyak tukang asongan. Gw rasa gw ga perlu mendeskripsikan terlalu jauh ttg bagaimana mereka menawarkan dagangannya dari kursi ke kursi, lantas dicuekin oleh penumpang tanpa senyum dan tanpa memandangnya, (malah sambil memandang ke luar jendela…)

Yang gw tangkap adalah kerja keras mereka. Betapa besar perjuagan mereka untuk mempertahankan hidup, berjualan dari pagi hingga lewat waktu isya… barangkali mereka memeiliki istri dan anak yg harus mereka nafkahi.

Gw merenung, kesulitan seperti apa yg mereka rasakan ketika tiba2 anaknya sakit keras sementara persediaan uang amat terbatas.

Lalu hati gw berbisik pada diri gw sendiri: selayaknyalah gw harus bersyukur pada Allah atas segala nikmat dari-Nya yg ga akan pernah bisa gw hitung… duh Allah, ampunilah dosa-dosa hamba.

--
03 November 2009.
Bus kota AC 70A, Tn.Abang-Cibinong.
(Pulang kerja.)


Beberapa hari lalu nyokap gw ngasih nasehat yang amat sederhana.
“meskipun sudah sibuk dengan bekerja, harus tetap bertakwa pada Allah, ya….”

Kalimatnya amat sederhana, namun terasa dalam buat gw. Secara semenjak gw ikut Rohis di Skil, kehidupan gw jauh lebih islami, itu objektif , bukan GR karena gw merasakan hal itu sendiri. Demikian juga semasa kuliah, gw terlibat aktif di Lembaga Dakwah Kampus. Ngurusin kaderisasi dakwah di sekolah, juga di kampus. Tak terasa gw sudah terlibat dalam aktivitas dakwah ini sembilan tahun lamanya. Selama itu pula gw bersama teman2 banyak terlibat dalam urusan konsep mengonsep acara2 dakwah, liqo2, dsb.

Sekarang gw udah kerja, dah bisa cari duit sendiri. Nyokap pasti khawatir karena ini gaya hidup gw jadi berubah.

Nasehat itu menjadi dalam maknanya buat gw, karena semenjak bekerja, intensitas tilawah gw menurun tajam. Jangan tanya sholat malam, shubuh aja beberapa kali gw kesiangan. Belum lagi ditambah pergaulan di kantor dengan orang2 ‘ammah yang sama sekali tidak ter-sibghoh oleh dakwah. Sedikit atau banyak, interaksi gw dgn teman2 kantor akan mengontaminasi pertahanan performa dan akhlak islami yg selama ini gw jaga.

Dan itu sudah terjadi. Paling tidak beberapa waktu belakangan ini, secara sikap, berpenampilan, serta cara bicara gw sedikit demi sedikit telah cenderung ke arah “konvensional.” Ucapan “syukron” gw lebih sering berganti dengan “thank you” tanpa gw sadari sebagai akibat keseharian di kantor. Belum lagi kesederhanaan dalam berpakaian….

Gw sendiri menyadari itu, dan khawatir semakin jauh gw melangkah dalam dunia gw yg sekarang, akan semakin jauh gw dari akhlak dan performa Islami. Kemudian tanpa disadari sedikit demi sedikit gw telah melangkah dan berubah begitu jauh ketika berkumpul dgn temen2 dakwah gw.. Astaghfirullah.

Itulah sebabnya, gw ingin bekerja di tempat yg dekat dengan rumah. Supaya gw tetap bisa berinteraksi secara dekat dengan teman2 gw di dunia dakwah. Dalam hal ini memang gw telah terjebak dalam “zona nyaman.” Di kantor, dengan pulang kerja jam 17.00 Waktu Indonesia Bagian Barat , dengan terpaksa sholat Maghrib selalu gw jama’ ke Isya. Gw amat merasa ga enak sama Allah, kebiasaan menjama’ sholat Maghrib, meskipun itu kemudahan yg diberikan oleh Allah, tapi kalau dikerjakan setiap hari kan bisa berpengaruh pada kebiasaan keseharian yang cenderung menggampangkan sholat. Intinya gw kurang sreg aja. Karena bagi gw sholat itu ibadah yg penting sebagai amal yg pertama kali dihisab di akhirat…. Belum lagi kelelahan gw karena mpe rumah selalu malam, sholat shubuh gw jadi sering telat…. Jangan2 kerjaan gw ini nggak barakah.

Itulah sebabnya, nasehat sederhana dari nyokap itu terasa dalam buat gw. Sebagai bentuk kecintaan nyokap pada anaknya agar tidak tertipu oleh pesona dunia yang melenakan.




Bagiku film itu bukan hanya sebatas hiburan,
Ia seperti novel, lagu cinta, lukisan, dan syair:
Menambah peka jiwa,
Mempermatang paradigma
Menambah semesta hikmah dan inspirasi dalam kehidupan

Tapi bukankah semuanya hanya karya manusia?
Ya,
Akan tetapi karya-karya itupun sejatinya lahir dari perenungan akan realitas :
perjalanan manusia dalam mengembarai alur hidupnya.
Ada cinta di sana, ada sejuta masalah,
Ada misteri,

ada luka,

setiap kali aku menikmati sastra; entah novel entah puisi,
seperti juga aku menikmati lagu cinta yang mengembara, yang suka dan luka.
demikian pula, setiap kali kutatap lekat lukisan dan fotografi,
suasananya sama: aku seperti hanyut ke alam entah dimana…
aku dapat melayang ke angkasa di ketinggiannya yang tiada bertepi,
dan menyelam ke dasar samudera di kedalamannya yang tiada bertepi,
itulah sifatku sesungguhnya…

Tuhan, jika semuanya dapat menghantarkanku pada kepekaan jiwa,
Semoga dengannya aku dapat menjadi manusia yang bijak,
Yang mampu merenungi akan hakikat hidup dan kehidupanku di alam dunia

Rabbi,
Akhirat itu tiada bertepi,


(agh, Setiap kali aku berkontemplasi seperti ini,
Nafasku selalu terasa berat…)

160508:21.07 BBWI-habis nonton Badai Pasti Berlalu



Ada kalimat menarik yg diucapkan oleh Elliana Pramesthi Alam pada film Ketika Cinta Bertasbih 2,

“aku suka rumah seperti ini. Nyaman, dan tak ada aura keangkuhan disini…”
Ya, keangkuhan, itu yg ingin aku garis bawahi. Sering kita melihat “wajah-wajah keangkuhan” yang amat jauh dari kedamian. Padahal pemilik wajah2 itu adalah mereka yang secara financial –sebagai ukuran senyum damai kebahagiaan—tercukupi.
Mereka memiliki kecenderungan memandang hina orang lain yang secara sosial lebih rendah statusnya dari mereka.

Tatapan mereka angkuh, nyaris tanpa senyum…
Cara berjalan mereka angkuh… tanpa tegur sapa,
Bahkan rumah-rumah mereka, yang megah dan besar itu, juga menggambarkan pemandangan keangkuhan.

Berbeda dengan rumah-rumah sederhana yang kita lihat di kampung-kampung. Kecil, sederhana, tetapi membawa kita pada suasana yang menenteramkan.
Orang-orang kaya yang seperti itu, ternyata dihimpit oleh kehidupan yang pelik, sehingga untuk sekadar tersenyum ramah saja terkesan sulit. Apa yang ada dalam pikiran mereka? Barangkali cuma uang, bisnis, dan investasi. Kering tanpa esensi, tanpa ruh… tanpa nyawa..

Barangkali wajah yang senantiasa terbasuhi oleh air wudhu yang menggambarkan wajah keteduhan, wajah yang senantiasa bersujud kepada Allah di akhir malam: menghamba, pada Zat yang patut disembah… itulah wajah penuh kedamaian yang sering kita lihat.
021009. 16.50



waktu itu di bus kota jurusan Tanah Abang-Cibinong. Ada pengamen yang amat eksentrik. Pake seruling sunda, berpenampilan bak seorang penyair yang jiwanya dalam. sangat menarik dan tidak biasa.

Sewaktu masih kuliah dulu, Aku pernah melihat yg lebih eksentrik. Waktu itu aku pulang lewat Cawang. Panampilan pengamen yang satu itu mirip dengan yang ini. Bersuling sunda, membawakan syair, masih muda, dan berkacamata. Tampak sangat intelektual. Bedanya, yang dulu itu menggunakan kain hitam-hitam berselendang tipis berwarna hitam. Sangat menarik.

Kesamaan lainnya adalah, mereka sama-sama membawakan syair berbau kiri dalam biskota. Kalimat demi kalimatnya demikian terpelajar. Rasanya sulit memahami kalau mereka pengamen yang "biasa-biasa saja". Menurut seorang teman, mereka memang mahasiswa. Aktivis dari organisasi mahasiswa berideologi kiri: Forum Kota (Forkot). ah, Entah apa yag mereka cari dengan utopia idealismenya itu….

bookmark
bookmark
bookmark
bookmark
bookmark

followers

Pemikiran Islam

Pemikiran Islam
Committed to the Truth